Melaksanakan Solat Dhuha Sepenuh Bahagia

Melaksanakan Solat Dhuha Sepenuh Bahagia


Oleh : Al-Ustadz Miftahul Chair Al-Fat, S.Hi. MA.

Genre : Kajian Fikih Islami/Motivasi Hati
Alumni Hukum Islam Pascasarjana  UIN Sumatera Utara

Solat yang telah dipopulerkan sejak masa Rasulullah Sayyidina Muhammad Saw memang memiliki tempat yang tersendiri di hati umat dan memiliki energi rohani yang berbeda dengan solat yang lain. Allah Swt tahu betul bahwa watak manusia itu pembosan, dalam ibadah Allah Swt membuat aneka ibadah termasuk solat, tidak solat wajib saja namun Allah Swt menambahinya dengan solat sunnah Dhuha termasuklah di dalamnya solat Dhuha. Solat Dhuha disebut penamaannya dengan solat menyambut pagi (al-ghadah) dan solat orang yang selalu kembali kepada Allah (awwabbin). Allah Swt sampai bersumpah dengan waktu Dhuha dalam firman-Nya :

وَالضُّحَى

Maknanya : “Demi waktu dhuha.” (QS. Adh-Dhuha : 1).

Makna Dhuha

Waktu Dhuha merupakan waktu yang istimewa karena Allah sampai-sampai bersumpah dengan waktu ini. Syeikh Sayyid Thanthawi dalam kitab tafsirnya Al-Wasith jilid 15, hal. 427 menjelaskan mengapa Allah sampai bersumpah dengan waktu Dhuha,

لأن الضحى يطلق على وقت انتشار ضياء الشمس حين ترتفع، وتلقى بأشعتها على الكون، ويبرز الناس لأعمالهم المتنوعة وحق الضحى وهو الوقت الذي ترتفع فيه الشمس، ويتم إشراقها، ويأخذ الناس في النشاط والحركة

Maknanya : “Karena waktu Dhuha adalah waktu menyebarnya sinar matahari ketika mulai naik ke permukaan, cahayanya menerpa ke semesta sedangkan manusia disibukkan dengan segala aktifitas, kegiatan dan gerak laju kehidupan.”

Secara filosofi dapat saya kembangkan di sini mengenai mengapa waktu dhuha begitu maha penting sesuai keterangan Syekh Sayyid Thanthawi di atas,

1. Waktu Dhuha adalah waktu menyebarnya sinar matahari ketika mulai naik ke permukaan, ini bermakna proses terbitnya waktu tersebut di bawah kendali Allah Swt, Dia yang punya kuasa. Kita diajak untuk jangan melupakan pencipta matahari dan agar jangan pula sampai mempertuhankan matahari walaupun matahari termasuk sumber kehidupan.

2. Cahayanya menerpa ke semesta, artinya matahari memiliki manfaat yang besar bagi kehidupan, dia sadar dengan penciptaannya maka dia menjadi penerang alam. Begitu pula manusia jangan lupa bahwa dia diciptakan Allah untuk menebarkan manfaat bukan mudharat.

3. Sedangkan manusia disibukkan dengan segala aktifitas, di waktu dhuha adalah waktu super sibuknya manusia, tenaga masih kuat dan energi masih penuh. Di sinilah letaknya sumpah Allah, bahwa waktu dhuha adalah waktu yang sensitif manusia lupa dengan Tuhannya, kecurangan bisa terjadi di waktu ini, maka kita disunnahkan untuk solat dhuha karena ruhani kita juga sesegar jasmani kita, kita diminta tetap balance walau sesibuk apa pun tetap selalu ada peluang untuk mengabdi kepada Allah Swt.

Jumlah Raka’at Dan Waktu Solat Dhuha

Imam An-Nawawi Rahimahullah dalam kitabnya Al-Majmu’ Syarhul Muhadzdzab Jilid 4, hal. 36 menyatakan,

فَقَالَ أَصْحَابُنَا صَلَاةُ الضُّحَى سُنَّةٌ مُؤَكَّدَةٌ وَأَقَلُّهَا رَكْعَتَانِ وَأَكْثَرُهَا ثَمَانِ رَكَعَاتٍ هَكَذَا قَالَهُ الْمُصَنِّفُ وَالْأَكْثَرُونَ وقال الروياتى وَالرَّافِعِيُّ وَغَيْرُهُمَا أَكْثَرُهَا اثْنَتَيْ عَشْرَةَ رَكْعَةً

Maknanya : “Sahabat-sahabat kami mengatakan solat Dhuha hukumnya sunnah mu’akkadah, sekurang-kurangnya dua raka’at dan sebanyak-banyaknya delapan raka’at, ini yang dikatakan oleh Abu Ishaq Asy-Syirazi dan mayoritas ulama. Imam Ar-Ruyani dan Ar-Rafi’i mengemukakan bahwa solat dhuha itu bisa dikerjakan 12 raka’at.”

Penjelasan di atas bermuara dari hadits-hadits Rasulullah Saw di antaranya, Abu Hurairah mengatakan,

أَوْصَانِى خَلِيلِى – صلى الله عليه وسلم – بِثَلاَثٍ صِيَامِ ثَلاَثَةِ أَيَّامٍ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ وَرَكْعَتَىِ الضُّحَى وَأَنْ أُوتِرَ قَبْلَ أَنْ أَنَامَ

Maknanya : “Kekasihku-yaitu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam-mewasiatkan tiga nasehat padaku: (1) Berpuasa tiga hari setiap bulannya, (2) Melaksanakan shalat Dhuha dua raka’at, dan (3) Berwitir sebelum tidur.” (HR. Bukhari No. 1981, Muslim 721).

Solat Dhuha juga dapat dikerjakan 4 raka’at, 6, 8 raka’at, 12 raka’at hingga terbatas jumlahnya dengan tiap-tiap dua raka’at satu salam walaupun dalam mazhab Hanafi yang paling utama adalah 4 raka’at satu salam sebagaimana yang disebutkan Imam As-Sarakhsi dalam kitabnya Al-Mabsuth.

مُعَاذَةُ أَنَّهَا سَأَلَتْ عَائِشَةَ – رضى الله عنها – كَمْ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يُصَلِّى صَلاَةَ الضُّحَى قَالَتْ أَرْبَعَ رَكَعَاتٍ وَيَزِيدُ مَا شَاءَ.

Maknanya : “Mu’adzah pernah menanyakan pada ‘Aisyah RA berapa jumlah raka’at shalat Dhuha yang dilakukan oleh Rasulullah Sayyidina Muhammad Saw? ‘Aisyah menjawab, “Empat raka’at dan beliau tambahkan sesuka beliau.”

Hadits di atas menunjukkan bahwa solat Dhuha tidak terikat jumlah raka’at sampai masuknya waktu zuhur seperti yang dinyatakan oleh Imam As-Suyuthi dalam kitabnya Al-Hawi Lil Fatawi jilid 1, hal. 56,

وَقَالَ الباجي مِنَ الْمَالِكِيَّةِ فِي شَرْحِ الْمُوَطَّأِ: لَيْسَ صَلَاةُ الضُّحَى مِنَ الصَّلَوَاتِ الْمَحْصُورَةِ بِالْعَدَدِ، فَلَا يُزَادُ عَلَيْهَا، وَلَا يُنْقَصُ مِنْهَا، وَلَكِنَّهَا مِنَ الرَّغَائِبِ الَّتِي يَفْعَلُ الْإِنْسَانُ مِنْهَا مَا أَمْكَنَه

Maknanya : “Imam Al-Baaji Al-Maliky dalam Syarh Al-Muwattha’ menyatakan, “Shalat dhuha bukanlah termasuk shalat yang rakaatnya dibatasi dengan bilangan tertentu yang tidak boleh ditambahi atau dikurangi, namun shalat dhuha termasuk shalat sunnah yang sangat dianjurkan bagi manusia untuk dilaksanakan sesuai kemampuan.”

Ada juga riwayat yang menyatakan bahwa Nabi pernah mengerjakannya 6 raka’at sebagaimana yang tertera di bawah ini,

عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ «أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلَّى الضُّحَى سِتَّ رَكَعَات

Maknanya : “Dari Jabir bin ‘Abdullah bahwa Nabi Saw mengerjakan solat Dhuha 6 raka’at.” (HR. Thabrani dalam Al-Mu’jamul Awsath No. 2724).

Di dalam riwayat lain yang disebutkan oleh Ummu Hani binti Abi Thalib menyebutkan,

عَنْ أُمِّ هَانِئٍ بِنْتِ أَبِي طَالِبٍ " أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمَ الْفَتْحِ صَلَّى سُبْحَةَ الضُّحَى ثَمَانِ رَكَعَاتٍ، يُسَلِّمُ مِنْ كُلِّ رَكْعَتَيْنِ

Maknanya : “Rasulullah Saw pada hari kemenangan kota Makkah (yaumul fath) mengerjakan solat dhuha sebanyak 8 raka’at dan melakukan salam di setiap dua raka’at.” (HR. Imam Baihaqi dalam kitabnya As-Sunan Al-Kubra No. 4905).

Konteks perbedaan raka’at ini dari sisi angka memiliki pengaturan yang menakjubkan, dikerjakan dua raka’at ringan sesuai kebutuhan manusia di tengah kesibukan yang super, dikerjakan 4 raka’at apabila memiliki waktu senggang yang cukup, dikerjakan 6 raka’at apabila waktu kerja tidak begitu padat, dikerjakan 8 raka’at ketika manusia lumayan longgar, dikerjakan 10 ketika dia punya banyak waktu, dikerjakan 12 saat santai memang penuh, dan dikerjakan sampai tidak tahu lagi berapa jumlah raka’at manakala tidak ada kerja di pagi hari dan Dhuha itulah menjadi profesi rohaninya. Allah Maha Tahu betul dan sangat bijak mengatur waktu seorang untuk mengabdi kepada-Nya tanpa harus mengorbankan kewajibannya mencari nafkah.

Waktu solat Dhuha dimulai pada saat matahari mulai naik sedikit setelah terbitnya dan waktu yang paling utama pada saat matahari hampir di atas kepala dan saat teriknya matahari, sebagaimana yang diterangkan dalam hadits berikut,

أَنَّ زَيْدَ بْنَ أَرْقَمَ رَأَى قَوْمًا يُصَلُّونَ مِنَ الضُّحَى فَقَالَ أَمَا لَقَدْ عَلِمُوا أَنَّ الصَّلاَةَ فِى غَيْرِ هَذِهِ السَّاعَةِ أَفْضَلُ. إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ صَلاَةُ الأَوَّابِينَ حِينَ تَرْمَضُ الْفِصَالُ

Maknanya : “Zaid bin Arqom melihat sekelompok orang melaksanakan shalat Dhuha, lantas ia mengatakan, “Mereka mungkin tidak mengetahui bahwa selain waktu yang mereka kerjakan saat ini, ada yang lebih utama. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “(Waktu terbaik) shalat awwabin (nama lain untuk shalat Dhuha yaitu shalat untuk orang yang taat atau kembali untuk taat adalah ketika anak unta merasakan terik matahari.” (HR. Muslim No. 748).

Imam An-Nawawi dalam kitabnya Syarh Shahih Muslim Jilid 6, hal. 30 menjelaskan,

قَالَ أَصْحَابُنَا هُوَ أَفْضَلُ وَقْتِ صَلَاةِ الضُّحَى وَإِنْ كَانَتْ تَجُوزُ مِنْ طُلُوعِ الشَّمْسِ إِلَى الزَّوَالِ

Maknanya : “Sahabat kami (dari ulama mazhab Syafi’i) menjelaskan, Inilah waktu utama untuk melaksanakan shalat Dhuha. Meskipun boleh pula dilaksanakan ketika matahari terbit hingga waktu zawal atau matahari tepat di atas kepala.”

Rahasianya terletak pada saat matahari terik di situlah lagi sibuk-sibuknya dan lagi kurang konsentrasinya hamba terhadap Tuhannya, maka ketika di saat seperti itu dia mencoba melaksanakan dhuha maka keberkahan hidup dan kemudahan kerja akan memancar. Ibarat seseorang yang dikasi tugas oleh bosnya yang cukup banyak namun disela-sela tugasnya, dia masih sempat bersikap tenang dengan senyuman yang ramah kepadanya maka otomatis tentunya dia menjadi karyawan yang berbeda di antara yang lain.

Keutamaan Solat Dhuha Yang Mengagumkan
Di dalam kitab Al-Hawi Lil Fatawi karya Imam As-Suyuthi sangat banyak sekali keutamaan dari solat dhuha ini, di antaranya :

1. Solat dhuha penghapus dosa.

Allah Swt berfirman :

إِنَّهُ كَانَ لِلْأَوَّابِينَ غَفُورًا

Maknanya : “Sesungguhnya Allah Swt mengampuni orang-orang yang melaksanakan solat dhuha (awwabin).” (QS. Al-Isra’ : 25).

Diperkuat dengan hadits Rasulullah Saw,

عَنْ معاذ بن أنس الجهني أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «مَنْ قَعَدَ فِي مُصَلَّاهُ حِينَ يَنْصَرِفُ مِنْ صَلَاةِ الصُّبْحِ، ثُمَّ يُسَبِّحُ رَكْعَتَيِ الضُّحَى، لَا يَقُولُ إِلَّا خَيْرًا، غُفِرَ لَهُ خَطَايَاهُ وَإِنْ كَانَتْ مِثْلَ زَبَدِ الْبَحْرِ

Maknanya : “Dari Mu’adz bin Anas Al-Juhni bahwa Rasulullah Saw bersabda : “Siapa yang duduk di tempat solat ketika selesai solat shubuh kemudian mengerjakan dua raka’at solat dhuha, tidak berkata apa pun kecuali yang baik-baik melainkan diampuni segala kesalahannya meskipun sebanyak buih dilautan.” (HR. Abu Dawud No. 1095).

2. Dimasukkan ke dalam surga dijauhkan dari api neraka.

Sabda Rasulullah Saw mengenai hal ini,

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، عَنِ النَّبِيّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: إِنَّ فِي الْجَنَّةِ بَابًا يُقَالُ لَهُ: الضُّحَى، فَإِذَا كَانَ يَوْمُ الْقِيَامَةِ نَادَى مُنَادٍ: أَيْنَ الَّذِينَ كَانُوا يُدِيمُونَ عَلَى صَلَاةِ الضُّحَى؟ هَذَا بَابُكُمْ فَادْخُلُوهُ بِرَحْمَةِ اللَّهِ

Maknanya : “Dari Abu Hurairah : Dari Nabi Saw : Sesungguhnya di dalam surga terdapat sebuah pintu yang disebut dhuha, apabila hari kiamat terdengar suatu seruan : Di mana orang yang mendawamkan solat dhuha? Ini adalah pintu kalian maka masuklah ke dalamnya dengan rahmat Allah.” (HR. Thabrani dalam Al-Mu’jamul Awsath No. 5060).

عَنِ الحسن بن علي قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «مَنْ صَلَّى الْفَجْرَ، ثُمَّ جَلَسَ فِي مُصَلَّاهُ يَذْكُرُ اللَّهَ حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ، ثُمَّ صَلَّى مِنَ الضُّحَى رَكْعَتَيْنِ حَرَّمَهُ اللَّهُ عَلَى النَّارِ أَنْ تَلْفَحَهُ، أَوْ تَطْعَمَه

Maknanya : “Dari Hasan bin ‘Ali dia berkata : Rasulullah Saw bersabda : Siapa yang telah mengerjakan solat shubuh, lalu duduk di tempatnya sembari mengingat Allah Swt sampai terbit matahari kemudia dilanjutkan dengan solat dhuha maka Allah mengharamkan neraka memakan dirinya.” (HR. Baihaqi dalam Syu’abul Iman No. 2697).

3. Solat dhuha setara dengan umrah dan haji sekaligus.

Rasulullah Saw bersabda,

عَنْ أَنَسٍ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «رَكْعَتَانِ مِنَ الضُّحَى تَعْدِلَانِ عِنْدَ اللَّهِ بِحَجَّةٍ وَعُمْرَةٍ مُتَقَبَّلَتَينِ

Maknanya : “Dari Anas Dari Nabi Saw : Dua raka’at dhuha setara di sisi Allah dengan haji dan umrah secara sempurna.” (HR. Dailami dalam Musnad Al-Firdaus No. 3235).

4. Solat dhuha merupakan sedekah tulang yang merangsang kesehatan.

Keterangan ini saya kutip dari sabda Rasulullah Saw,

أَبِي بُرَيْدَةَ يَقُولُ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ فِي الْإِنْسَانِ سِتُّونَ وَثَلَاثُ مِائَةِ مَفْصِلٍ فَعَلَيْهِ أَنْ يَتَصَدَّقَ عَنْ كُلِّ مَفْصِلٍ مِنْهَا صَدَقَةً قَالُوا فَمَنْ الَّذِي يُطِيقُ ذَلِكَ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ النُّخَاعَةُ فِي الْمَسْجِدِ تَدْفِنُهَا أَوْ الشَّيْءُ تُنَحِّيهِ عَنْ الطَّرِيقِ فَإِنْ لَمْ تَقْدِرْ فَرَكْعَتَا الضُّحَى تُجْزِئُ عَنْكَ

Maknanya : “Abu Buraidah menyatakan, aku mendengar Rasulullah Saw bersabda : Dalam tubuh manusia ada tiga ratus enampuluh ruas tulang, Ia diharuskan bersedekah untuk tiap tulang itu. Sahabat bertanya : Siapalah yang kuat melakukan itu Ya Rasulallah? Rasulullah melanjutkan : Dengan menyingkirkan dahak di masjid dan ditutupinya dengan tanah, atau menyingkirkan sesuatu dari tengah jalan, jika engkau tidak sanggup melakukan itu maka cukuplah bagimu mengerjakan dua raka’at solat dhuha.” (HR. Ahmad 21290).

5. Solat dhuha mempelancar rezeki.

Sebagaimana yang dijelaskan oleh Rasulullah Saw dalam sebuah hadis Qudsi,

عَنْ نُعَيْمِ بْنِ هَمَّارٍ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ يَقُولُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ يَا ابْنَ آدَمَ لَا تُعْجِزْنِي مِنْ أَرْبَعِ رَكَعَاتٍ فِي أَوَّلِ نَهَارِكَ أَكْفِكَ آخِرَه

Maknanya : “Dari Nu’aim bin Hammar dia berkata Rasulullah Saw berkata, Allah berfirman : Wahai anak Adam, janganlah kalian merasa lemah untuk melaksanakan empat raka’at solat dhuha pada awal siangmu pasti akan ku cukupi (kebutuhanmu) sore harinya.” (HR. Abu Dawud No. 1097, Tarmidzi 437 dan Baihaqi 4680).

Imam Al-Manawi dalam kitabnya Faidhul Qadir jilid 4, hal. 468 di atas menjelaskan,

)أكفك آخره) أي شر ما يحدثه في آخر ذلك اليوم من المحن والبلايا فأمره تعالى بفعل شيء أو تركه إنما هو لمصلحة تعود على العبد

Maknanya : “Aku cukupi kebutuhanmu pada sore harinya bermakna dijaga seorang hamba itu dari kejahatan pada hari itu berupa ujian atau bencana-benacana maka Allah Swt memerintahkan kepada-Nya untuk memperbuat sesuatu atau meninggalkan sesuatu (untuk menyelamatkan para pengamal solat dhuha ini. Dan itu terjadi untuk suatu masalahat yang kembali pada seorang hamba itu sendiri.”

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ أَنَّهُ قَالَ رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي سَفَرٍ صَلَّى سُبْحَةَ الضُّحَى ثَمَانِ رَكَعَاتٍ فَلَمَّا انْصَرَفَ قَالَ إِنِّي صَلَّيْتُ صَلَاةَ رَغْبَةٍ وَرَهْبَةٍ سَأَلْتُ رَبِّي عَزَّ وَجَلَّ ثَلَاثًا فَأَعْطَانِي ثِنْتَيْنِ وَمَنَعَنِي وَاحِدَةً سَأَلْتُ أَنْ لَا يَبْتَلِيَ أُمَّتِي بِالسِّنِينَ فَفَعَلَ وَسَأَلْتُ أَنْ لَا يُظْهِرَ عَلَيْهِمْ عَدُوَّهُمْ فَفَعَلَ وَسَأَلْتُهُ أَنْ لَا يَلْبِسَهُمْ شِيَعًا فَأَبَى عَلَيَّ

Maknanya : “Saya melihat Rasulullah Saw di waktu berpergian melakukan solat dhuha sebanyak 8 raka’at. Setelah selesai beliau bersabda : Tadi saya solat dhuha dengan penuh harapan dan diliputi kecemasan. Saya memohon kepada Tuhan. Tiga hal diberinya dan yang satu ditolak-Nya. Saya mohon supaya umat jangan diuji dengan musim paceklik dan ini dikabulkan, saya mohon pula agar umatku tidak dapat dikalahkan musuh dan inipun dikabulkan lalu saya memohon agar umatku jangan sampai berpecah-pecah menajdi beberapa golongan dan ini pula yang ditolak-Nya. (HR. Ahmad No. 12029).

Saya teringat dengan kisah dari sahabat saya Andri Wardani, beliau adalah seorang ahli dalam perkebunan. Suatu saat dia bercerita kepada saya, Miftah tahu nggak pohon rambung itu setiap jam 8 atau jam 9 pagi akan merunduk layaknya orang yang ruku’ dan sujud. Saya sudah amati bertahun-tahun, pohon rambung yang merunduk di jam segitu, maka pohon tersebut banyak getahnya. Tapi pohon yang tidak dan berdiri kokoh hanya menghasilkan getah yang sedikit.

6. Aneka keutamaan bagi yang hobi dhuha.

Rasulullah Saw bersabda :

وَأَخْرَجَ الطَّبَرَانِيُّ بِسَنَدٍ حَسَنٍ عَنْ أَبِي الدَّرْدَاءِ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَنْ صَلَّى الضُّحَى رَكْعَتَيْنِ، لَمْ يُكْتَبْ مِنَ الْغَافِلِينَ، وَمَنْ صَلَّى أَرْبَعًا كُتِبَ مِنَ الْعَابِدِينَ، وَمَنْ صَلَّى سِتًّا كُفِيَ الْيَوْمَ، وَمَنْ صَلَّى ثَمَانِيَةً كُتِبَ مِنَ الْقَانِتِينَ، وَمَنْ صَلَّى ثِنْتَيْ عَشْرَةَ بَنَى اللَّهُ لَهُ بَيْتًا فِي الْجَنَّة

Maknanya : “Siapa yang mengerjakan solat dhuha dua raka’at dhuha maka tidak dicatat ia sebagai orang-orang yang lalai, siapa yang mengerjakan empat raka’at maka dicatat dia sebagai orang-orang yang ahli ibadah, siapa yang mengerjakan enam raka’at maka dicukupi kebutuhannya satu hari, siapa yang mengerjakanya delapan raka’at maka dicata ia sebagai orang-orang yang taat dan barang siapa yang mengerjakannya 12 raka’at maka Allah akan membangunkan sebuah rumah untuknya di surga.” (HR. Ibnu Jarir dan Thabrani dengan sanad hasan dari Abu Darda’).

Ayat yang dibaca, solat dhuha dapat dilaksanakan dengan surat-surat pilihan di antaranya,

أَمَرَنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ نُصَلِّيَ رَكْعَتَا الضُّحَى بِسُورَتَيْهِمَا، بِالشَّمْسِ وَضُحَاهَا، وَالضُّحَى

Maknanya : “Nabi memerintahkan kepada kami untuk solat dua raka’at dhuha dengan dua surat yakni As-Syams dan Adh-Dhuha.” (HR. Thabrani dalam Al-Mu’jamush Shaghir No. 829).

Disebutkan pula bahwa Nabi memerintahkan untuk melaksanakan solat dhuha dengan membaca surat surat Al-Ikhlas 10 kali dan ayat kursi 10 kali di raka’at kedua insya Allah mendapatkan keridhaan Allah yang besar.

Doa pada saat selesai solat dhuha

Saya coba mencari beberapa literatur tentang doa solat dhuha, satu saya temukan yang termasuk dalam hadits Nabi dan satu lagi merupakan rangkaian doa indah para ulama, sebagai berikut :

وَأَخْرَجَ مِنْ طَرِيقِ زاذان أبي عمر عَنْ رَجُلٍ مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنَ الْأَنْصَارِ، قَالَ: «رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّي صَلَاةَ الضُّحَى وَيَقُولُ: رَبِّ اغْفِرْ لِي، وَتُبْ عَلَيَّ، إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الْغَفُورُ، حَتَّى بَلَغَ مِائَةً

Maknanya : “Dari seorang laki-laki sahabat Rasulullah dari golongan anshar mengatakan : aku melihat  Rasulullah Saw melaksanakan solat dhuha, beliau mengucapkan : Ya Tuhanku, terimalah taubatku, sesungguhnya Engkau Maha Penerima taubat sebanyak 100 kali. “ (HR. Zadan Abi Umar).

Di dalam kitab Tuhfatul Muhtaj Fi Syarhil Minhaj bab fi shaltin nafli jilid 2, hal. 231 karya Imam Ibnu Hajar Al-Haitami dapat kita lihat di sana sebuah doa yang sangat masyhur dan populer,

اَللهُمَّ اِنَّ الضُّحَآءَ ضُحَاءُكَ، وَالْبَهَاءَ بَهَاءُكَ، وَالْجَمَالَ جَمَالُكَ، وَالْقُوَّةَ قُوَّتُكَ، وَالْقُدْرَةَ قُدْرَتُكَ، وَالْعِصْمَةَ عِصْمَتُكَ. اَللهُمَّ اِنْ كَانَ رِزْقِى فِى السَّمَآءِ فَأَنْزِلْهُ وَاِنْ كَانَ فِى اْلاَرْضِ فَأَخْرِجْهُ وَاِنْ كَانَ مُعَسَّرًا فَيَسِّرْهُ وَاِنْ كَانَ حَرَامًا فَطَهِّرْهُ وَاِنْ كَانَ بَعِيْدًا فَقَرِّبْهُ بِحَقِّ ضُحَاءِكَ وَبَهَاءِكَ وَجَمَالِكَ وَقُوَّتِكَ وَقُدْرَتِكَ آتِنِىْ مَآاَتَيْتَ عِبَادَكَ الصَّالِحِيْنَ

ALLAHUMMA INNADH DHUHA-A DHUHA-UKA, WAL BAHAA-A BAHAA-UKA, WAL JAMAALA JAMAALUKA, WAL QUWWATA QUWWATUKA, WAL QUDRATA QUDRATUKA, WAL ISHMATA ISHMATUKA. ALLAHUMA INKAANA RIZQI FIS SAMMA-I FA ANZILHU, WA INKAANA FIL ARDHI FA-AKHRIJHU, WA INKAANA MU’ASARAN FAYASSIRHU, WAINKAANA HARAAMAN FATHAHHIRHU, WA INKAANA BA’IDAN FA QARIBHU, BIHAQQIDUHAA-IKA WA BAHAAIKA, WA JAMAALIKA WA QUWWATIKA WA QUDRATIKA, AATINI MAA ATAITA ‘IBADIKASH SHALIHIN.

Maknanya: “Wahai Tuhanku, sesungguhnya waktu dhuha adalah waktu dhuha-Mu, keagungan adalah keagunan-Mu, keindahan adalah keindahan-Mu, kekuatan adalah kekuatan-Mu, penjagaan adalah penjagaan-Mu, Wahai Tuhanku, apabila rezekiku berada di atas langit maka turunkanlah, apabila berada di dalam bumi maka keluarkanlah, apabila sukar mudahkanlah, apabila haram sucikanlah, apabila jauh dekatkanlah dengan kebenaran dhuha-Mu, kekuasaan-Mu (Wahai Tuhanku), datangkanlah padaku apa yang Engkau datangkan kepada hamba-hambaMu yang soleh.”

Solat dhuha ini dapat dikerjakan dengan berjamaah tergantung kondisi yang ada dengan membaca dzahir ayat dengan cara dijaharkan seperti solat shubuh.

Ahsanakumullaahul hal abadan,
Sang Pecinta Kedamaian : Al-Ustadz Miftahul Chair Al-Fat, S.Hi. MA.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hadits Palsu (2) Wanita Di Neraka Selama 70000 Tahun Gara-Gara 1 helai Rambutnya Terlihat Lelaki Yang Bukan Mahramnya

Nabi Adam Menggunakan Bahasa Suryani Tidak Bahasa Arab (Bahasa Pertama Di Dunia)

Reinkarnasi Dalam Islam Sangat Memungkinkan